Bali Sepi Di Nataru 2025? PHRI Badung Jelaskan Fenomena Lonjakan Wisatawan Domestik

Rabu, 24 Desember 2025

    Bagikan:
Penulis: Andi Hakim
Wakil Ketua PHRI Badung mengonfirmasi penurunan turis asing di Desember namun menyoroti lonjakan signifikan wisatawan domestik yang sudah memadati Kuta dan membooking hotel hingga penuh. (Antara Foto/Fikri Yusuf)

Badung - Isu sepinya kunjungan wisatawan ke Bali pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 direspons oleh pelaku industri setempat. Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, Komang Alit Ardana, mengakui terjadi penurunan jumlah wisatawan mancanegara. Namun, hal ini disebutnya sebagai fenomena biasa yang justru diimbangi dengan lonjakan signifikan kunjungan wisatawan domestik.

Komang Alit Ardana menjelaskan bahwa bulan Desember memang kerap mengalami penurunan kunjungan wisman. Penyebab utamanya adalah periode perayaan Natal di mana para wisatawan asing cenderung pulang ke negara asal mereka. "Memang di bulan Desember memang sepi, tetapi wisatawan mancanegaranya yang sepi, justru yang akan melonjak wisatawan domestik," ujar Alit saat ditemui di Kuta, Selasa (23/12/2025).

Lonjakan wisatawan domestik ini, menurut Alit, sudah menjadi pola yang dapat diprediksi. Ia memberikan contoh nyata dengan meningkatnya kepadatan lalu lintas. Kawasan Kuta mulai dipadati kendaraan bermotor dengan pelat nomor dari luar Bali. Selain itu, antrean kendaraan juga terpantau meningkat di Pelabuhan Ketapang, gerbang penyeberangan menuju Pulau Dewata.

Baca Juga: Kunjungan Wisatawan Ke Angkor Wat Turun 6,7% Akibat Ketegangan Perbatasan Kamboja-Thailand

Meski saat ini tingkat okupansi atau keterisian hotel di Bali masih berada pada kisaran 60 hingga 70 persen, Alit memproyeksikan peningkatan drastis. Ia memperkirakan angka okupansi akan melonjak dan mencapai kondisi penuh (full booking) menjelang dan terutama setelah tanggal 24 Desember. Kondisi penuh ini diprediksi akan bertahan hingga pertengahan Januari 2026, seiring dengan periode libur kerja dan cuti bersama.

Secara keseluruhan, Alit mengakui bahwa volume wisatawan tahun ini memang cenderung lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut faktor cuaca ekstrem dan bencana alam yang terjadi secara luas sebagai salah satu penyebabnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu dinilai mempengaruhi minat dan rencana perjalanan calon wisatawan.

Alit juga menyoroti berbagai perbandingan tidak setara yang beredar di media sosial, di mana pariwisata Bali dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand atau Malaysia. Menurutnya, perbandingan antara sebuah pulau dengan sebuah negara adalah kurang adil. "Kalau mau disandingkan, ya Indonesia dong dilawan," tegasnya, menekankan bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia.

Di tengah berbagai tantangan, Alit menegaskan komitmennya bahwa Bali tetap merupakan destinasi yang layak dan aman untuk dikunjungi. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk terus bersinergi mempromosikan keindahan dan daya tarik Pulau Dewata kepada khalayak yang lebih luas.

Terlepas dari dinamika yang ada, pola kunjungan di akhir tahun ini menunjukkan ketahanan sektor pariwisata domestik Bali. Pergeseran proporsi wisatawan dari mancanegara ke domestik menjadi bukti adaptasi industri dalam merespons perubahan pola perjalanan global dan musiman.


    Bagikan:
komentar