Kunjungan Wisatawan Ke Angkor Wat Turun 6,7% Akibat Ketegangan Perbatasan Kamboja-Thailand

Jumat, 02 Januari 2026

    Bagikan:
Penulis: Andi Hakim
Ketegangan militer di perbatasan menyebabkan penutupan pintu darat dan penurunan signifikan kunjungan wisatawan asing ke situs warisan dunia Angkor Wat pada 2025. (dok. AP/Heng Sinith)

Phnom Penh – Optimisme pemulihan pariwisata Kamboja menemui kenyataan pahit di penghujung tahun 2025. Taman Arkeologi Angkor Wat, ikon utama negara itu, mencatat penurunan jumlah pengunjung sebesar 6,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data resmi dari Angkor Enterprise menunjukkan hanya 955.131 turis yang berkunjung, dengan pendapatan tiket juga merosot 6,51 persen menjadi sekitar US$44,7 juta. Penurunan ini secara langsung dikaitkan dengan ketegangan dan penutupan gerbang perbatasan darat dengan Thailand yang telah berlangsung beberapa waktu.

Presiden Asosiasi Agen Perjalanan Kamboja, Chhay Sivlin, menyatakan keprihatinan mendalam atas angka ini. Ia menegaskan bahwa konflik perbatasan telah menciptakan atmosfer ketidakpastian yang merugikan sektor pariwisata. Penutupan akses darat secara signifikan memangkas arus wisatawan regional, khususnya dari Thailand yang merupakan pasar terbesar ketiga bagi Kamboja. Dampaknya terlihat jelas dalam statistik kedatangan wisatawan melalui jalur darat yang anjlok 32 persen dalam sebelas bulan pertama tahun 2025.

Meskipun terjadi kemerosotan di jalur darat, data dari Kementerian Pariwisata menunjukkan secercah harapan dari sektor transportasi udara. Kedatangan wisatawan melalui udara justru meningkat 21 persen pada periode yang sama, menunjukkan bahwa daya tarik Angkor Wat tetap kuat bagi pasar jarak jauh. Peningkatan ini, sayangnya, tidak cukup untuk mengimbangi kerugian besar dari penutupan akses darat yang selama ini menjadi tulang punggung kunjungan wisatawan regional.

Baca Juga: Bali Sepi Di Nataru 2025? PHRI Badung Jelaskan Fenomena Lonjakan Wisatawan Domestik

Situs seluas 401 kilometer persegi yang dihuni 91 kuil kuno dari abad ke-9 hingga ke-13 ini merupakan mesin ekonomi vital bagi wilayah Siem Reap dan Kamboja secara nasional. Statusnya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1992 tidak menjamin kekebalan dari gejolak geopolitik. Insiden ini menjadi pembelajaran nyata tentang kerentanan aset budaya dan pariwisata terhadap konflik antarnegara tetangga.

Menyikapi krisis, pemerintah Kamboja telah meluncurkan beberapa strategi penanggulangan. Salah satu langkah signifikan adalah kebijakan uji coba bebas visa untuk warga negara Tiongkok yang akan berlaku dari Juni hingga Oktober 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan dari pasar terbesar kedua tersebut. Selain itu, Kementerian Pariwisata gencar menyampaikan pesan bahwa Kamboja tetap aman dan ramah bagi wisatawan internasional.

Di sisi diplomatik, telah ada perkembangan positif dengan ditandatanganinya gencatan senjata dengan Thailand pada 27 Desember 2025. Meski ketegangan belum sepenuhnya reda, langkah ini diharapkan menjadi pintu pembuka untuk normalisasi perdagangan dan perjalanan lintas batas. Pemulihan hubungan bilateral kedua negara akan menjadi kunci bagi rebound pariwisata regional ke Angkor Wat.

Para pemangku kepentingan industri pariwisata kini berharap pada efektivitas strategi promosi dan kebijakan bebas visa. Mereka juga menekankan pentingnya diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada satu atau dua negara sumber wisatawan. Kejadian ini memicu evaluasi mendalam mengenai ketahanan dan keberlanjutan sektor pariwisata Kamboja di tengah ketidakstabilan regional.

Masa depan kunjungan ke Angkor Wat akan sangat bergantung pada dua faktor: stabilitas politik di perbatasan dan keberhasilan kampanye pemasaran pemerintah. Pemulihan kepercayaan di kalangan wisatawan regional membutuhkan waktu dan bukti nyata bahwa situasi telah benar-benar aman. Warisan peradaban Khmer yang agung ini tetap menjadi magnet dunia, namun jalan menuju pemulihan penuh masih menyimpan tantangan.


    Bagikan:
komentar