Trump Hanya 'Gertak', JK Percaya Dampak Tarif AS Terhadap RI Sangat Kecil

Selasa, 15 April 2025

    Bagikan:
Penulis: Chairil Khalis

Pengusaha senior yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, mengingatkan bahwa perang dagang yang dimulai oleh Presiden AS Donald Trump melalui penerapan tarif impor yang tinggi terhadap negara-negara mitra, termasuk Indonesia, hanyalah sekadar gertakan. 

Ia menegaskan bahwa tidak ada analisis ekonomi yang mendasari keputusan Trump untuk mengenakan tarif tinggi kepada negara-negara mitranya, termasuk dampak ekonomi yang langsung dirasakan oleh masyarakat Amerika sendiri. 

"Karena hal ini akan menyebabkan kenaikan harga di negaranya, mulai dari 10%, 15%, tetapi tidak sampai 30%. Kita juga melihat beberapa hari setelah itu, rakyat Amerika dan masyarakat di berbagai belahan dunia melakukan protes besar-besaran," ujar pria yang akrab disapa JK dalam program Koneksi Cuap-Cuap Cuan di CNBC Indonesia, yang dikutip pada Rabu (16/4/2025).

JK menjelaskan bahwa ketidakadanya perhitungan ekonomi dalam kebijakan tarif dagang yang diterapkan terlihat jelas. Menurutnya, jika mempertimbangkan aspek ekonomi, Trump seharusnya menetapkan tarif berdasarkan jenis komoditas impor yang masuk ke Amerika Serikat, bukan hanya berdasarkan negara asalnya.

"Jadi, ini lebih kepada isu politik daripada ekonomi. Dalam konteks ekonomi, tarif seharusnya ditentukan berdasarkan komoditas," tegas JK.

"Jika kita melihat praktik yang umum, seperti di Indonesia, tidak ada kebijakan yang menetapkan bea masuk berbeda untuk AS dan Eropa. Kita mencantumkan jenis barang dan nomor barangnya, sehingga tarif yang berlaku sama untuk semua negara," jelasnya.

Dengan demikian, JK menekankan bahwa Trump tidak akan dapat mempertahankan kebijakan ini dalam jangka panjang. Hal ini terlihat dari penundaan penerapan tarif yang telah diputuskan selama 90 hari, kecuali untuk China yang dikenakan tarif sebagai balasan.

Oleh karena itu, China mengambil sikap melawan, dan situasi ini membuat Trump kebingungan. Dia berada dalam posisi yang sulit, antara melanjutkan kebijakan yang salah atau tidak melanjutkan dan merasa malu. Sebenarnya, fokus utama adalah pada China, jelas JK.

Ia juga menjelaskan bahwa langkah pemerintah Presiden RI Prabowo Subianto yang mengirimkan delegasi menteri ke AS bukanlah untuk bernegosiasi mengenai tarif yang diterapkan oleh Trump, melainkan untuk mengklarifikasi tarif perdagangan di Indonesia yang disebutkan Trump sebesar 64%.

"Saya ingin menegaskan dalam pernyataan saya bahwa ini bukanlah negosiasi, melainkan klarifikasi. Angka 32% tarif untuk Indonesia berasal dari asumsi pemerintah Amerika, di bawah kepemimpinan Trump, yang menganggap bahwa tarif impor Indonesia sekitar 64%. Namun, kenyataannya tidak demikian, sehingga Indonesia perlu mengklarifikasi bahwa angka tersebut tidak akurat," tegasnya.

JK juga menyatakan bahwa ia telah berdiskusi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai dampak pengenaan tarif 32% oleh Trump terhadap Indonesia, yang dinilai sangat kecil, mengingat porsi ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 10% dan kontribusi ekspor terhadap PDB Indonesia hanya 20%.

Jadi, dampak terhadap ekonomi kita tidak akan signifikan, hanya sekitar 0,2% dari GDP. Ini sering kali diabaikan oleh para ekonom. Saya menghitung bahwa pengaruhnya sangat kecil. Jadi, tidak perlu khawatir, tetap tenang. Ini bukan gertakan yang berkepanjangan, melainkan tekanan agar orang mengikuti keinginan Trump, ujar JK.

Mengenai dampak gejolak di pasar modal setelah pengumuman tarif oleh Trump, JK menjelaskan bahwa hal tersebut sebenarnya terjadi di pasar modal AS akibat perhitungan dan ekspektasi para investor. Mereka menilai bahwa aktivitas perusahaan yang mereka investasikan akan melambat karena harga jual yang semakin tinggi di AS. Namun, dampak dari harga jual tersebut di AS belum sepenuhnya terwujud.

"Jika kita perhatikan, saham yang paling turun pada hari pertama di Amerika adalah Apple, khususnya iPhone. Semua iPhone diproduksi di Cina, sehingga ketika masuk ke Amerika, harganya menjadi mahal. Akibatnya, orang mungkin tidak akan membeli iPhone. Hal ini menyebabkan kerugian bagi Apple, yang kemudian membuat investor menjual sahamnya, begitu juga dengan produk lainnya. Ini hanya berdasarkan kemungkinan yang ada," jelasnya.

"Seperti yang disampaikan oleh Pak Presiden, pasar modal itu seperti perjudian. Daripada mengalami kerugian di kemudian hari, lebih baik menjual sekarang. Jika banyak orang menjual saham, maka harga saham tersebut akan turun," tegas JK.

(Chairil Khalis)

Baca Juga: Pemprov Jateng Pertahankan Gelar TPID Terbaik Se-Indonesia Tingkat Provinsi
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.